Dinamika Ketenagakerjaan Kota Bima di Tengah Pandemi - Bima News

Sabtu, 12 Juni 2021

Dinamika Ketenagakerjaan Kota Bima di Tengah Pandemi

Iin
Oleh: Iin Suprihatin (Statistisi Pertama BPS Kota Bima)
 

Pandemi Covid-19 tidak hanya berimbas pada dunia kesehatan, lebih dari itu dampaknya dirasakan sangat signifikan pada sektor perekonomian, termasuk di dalamnya ketenagakerjaan. International Labour Organisation (ILO) memprediksi bahwa secara global pandemi akan menyebabkan sekitar 195 juta orang kehilangan pekerjaan. Lebih jauh lagi ILO menyatakan empat dari lima pekerja (81%) merasakan dampak dari berhentinya operasi perusahaan atau pengurangan jam kerja.

Di Indonesia berdasarkan data Kementrian Ketenagakerjaan, sejak kebijakan social distancing April 2020 digulirkan sekitar dua juta pekerja formal dan informal terkena PHK imbas dari pandemi. Jumlah itu memiliki potensi bertambah mengingat trend kenaikan angka terkonfirmasi Covid-19.

Ketenagakerjaan di Kota Bima tidak luput dari serangan pandemi. Badan Pusat Statistik Kota Bima dalam Statistik Ketenagakerjaannya mencatat pada tahun 2020, tingkat pengangguran mencapai 4,42 persen mengalami kenaikan 0,24 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019 yaitu sebesar 4,18 persen. Masalah penggangguran menjadi isu krusial yang harus segera diselesaikan dalam proses pemulihan ekonomi tahun 2021 pasca pandemi. 

Selain itu terjadi penurunan persentase jumlah buruh/karyawan di Kota Bima sekitar 0,32 persen  jika dibandingkan dengan tahun 2019. Kelesuan bisnis akibat pandemi menjadi indikator utama pengusaha merumahkan bahkan memberhentikan buruh/karyawan.

Serapan pekerja di bidang informal sepanjang tahun 2020 mengalami peningkatan  hingga  4,10 persen. Peningkatan ini disebabkan karena sektor informal lebih mudah mengubah jenis usaha tergantung pada kondisi perekonomian daripada pekerja formal. Namun di sisi lain, pekerja informal memiliki akses yang terbatas terhadap program perlindungan sosial dan program pemerintah lainnya. Sebagai contoh, program Pemulihan Ekonomi Nasional yang dirancang untuk menanggulangi dampak pandemi baru menyasar sektor formal. Oleh sebab itu, perlu juga program penanggulangan krisis yang menargetkan pekerja di sektor informal.

Peranan pemerintah dalam membuat road map program pemulihan perekonomian daerah sangat diperlukan. Yaitu dengan mengorganisir semua pihak yang terlibat dalam percepatan penanganan pandemi, menyediakan permodalan, berupa anggararan pemerintah maupun dari lembaga keuangan. Selain itu pemerintah harus mendorong pengusaha menengah dan besar memberikan andil dalam membantu usaha rakyat dan UMKM yang berjuang memulihkan perekonomian daerah, memfasilitasi pengembangan pemasaran ke wilayah lain, hingga memberikan akses investasi di Kota Bima. (*)

Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja 

 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda