Habiskan Anggaran Rp 850 Juta, Kolam Renang Lawata Kini Kotor dan Bau - Bima News

Monday, 9 August 2021

Habiskan Anggaran Rp 850 Juta, Kolam Renang Lawata Kini Kotor dan Bau

Kolam
Tidak terawat, kondisi kolam renang di Pantai Lawata terlihat kotor, dipenuhi sampah dan lumut.
 

BimaNews.id, KOTA BIMA-Kondisi kolam renang di Lawata, kini menyedihkan. Habiskan anggaran Rp 850 juta, justeru tidak bisa dinikmati pengunjung karena airnya kotor, berbau dan tidak terawat.

Pantauan wartawan pada Senin (9/8), air pada dua kolam terlihat kotor. Dipenuhi dedaunan dan lumut, sehingga tercium bau tidak sedap.

Kondisi kolam anak, terlihat lebih parah. Air sudah terlihat menguning, berbusa dan berbau. Beberapa keramik pada pinggiran kolam, juga terlihat rusak.

Di sekitar kolam juga dipenuhi sampah dedaunan. Lampu-lampu yang terpasang, di sekitar pinggir kolam juga terlihat rusak. Kursi-kursi bagus dipasang begitu saja, bahkan di sekitarnya ditumbuhi semak.

Begitu juga dengan wahana permainan ketangkasan anak. Karena terbuat dari besi, beberapa diantaranya terlihat berkarat. Apalagi, wahana ini tersimpan di daerah yang berdekatan dengan laut.

Pada Minggu (8/8) , beberapa pengunjung mengeluhkan kondisi kolam renang di Lawata tersebut. Seperti satu keluarga, yang baru saja datang dari NTT, singgah di Kota Bima sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali.

Sempat melihat promosi Lawata di internet, yang sangat memukau. Namun setelah dikunjungi, ternyata jauh dari promosi. Anak-anak yang hendak berenang, harus menelan rasa kecewa karena melihat kondisi kolam yang kotor.

"Kami lihat di internet itu keren sekali. Mungkin malam. Tapi kolam renangnya kotor sekali. Kasian anak-anak tidak jadi berenang, " ujar Amos, saat ditemui wartawan.

Sementara itu, Kadis Pariwisata, H Zulkifli yang dikonfirmasi via ponsel membenarkan kondisi kolam renang di Lawata saat ini tidak dibuka.

Ia mengaku, pihaknya terkendala pada bagian pemeliharaan. Anggaran untuk pembersihan kolam, sudah dipotong. Sedangkan, kolam renang harus dibersihkan minimal satu kali dalam sepekan.

"Pengunjung tidak ada, pemasukan tidak ada. Anggaran yang ada di dinas pun sudah dipotong, " ungkapnya.

Pembersihan kolam, tidak bisa dilakukan tanpa biaya. Mulai dari gaji pekerja, hingga sterilisasi air kolam.

"Kita tidak mau ambil resiko, kolam tetap dibuka tapi airnya tidak bersih. Kan harus ditaburi kaporit dan sebagainya, agar air kolam bersih, " jelas mantan Kadis Perhubungan ini.

Zulkifli mengaku, selama menjadi kepala dinas pariwisata, kolam di Lawata sudah sempat dibuka dan dinikmati pengunjung. Tapi dampak pandemi Covid-19, sehingga kolam harus ditutup karena anggaran yang tidak ada. (tin)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda