Ditinggal Panen Jagung, Rumah Panggung Sembilan Tiang Hangus Terbakar - Bima News

Minggu, 16 Mei 2021

Ditinggal Panen Jagung, Rumah Panggung Sembilan Tiang Hangus Terbakar

kebakaran
Haidin  menunjukkan sisa rumah anaknya Nursafirah yang hangus terbakar, Minggu (16/5).
 

BimaNews.id,BIMA- Satu unit rumah panggung di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi hangus dilahap si jago merah, Sabtu  (15/5) sekitar pukul 14.30 Wita. Penyebabnya diduga, api yang dibuat anak-anak saat bermain di dekat rumah tersebut.

Warga Desa Bajo, dikejutkan dengan api yang tiba-tiba membesar dan membakar rumah panggung milik Nursafirah. Tiupan angin yang kencang membuat rumah sembilan tiang tersebut rata dengan tanah hanya dalam waktu beberapa puluh menit saja.

Beruntung tidak ada korban jiwa pada musibah tersebut. Rumah dalam kondisi kosong ditinggal pemilik yang panen jagung.

Haidin orang tua pemilik rumah mengatakan, saat kejadian tidak ada penghuni rumah. Anak-anaknya saat itu sedang panenn jagung di Kilo, Kabupaten Dompu.

Begitu juga dirinya, saat itu sedang di ladang. Ia mengetahui rumah terbakar, diberitahu tetangga sekitar.

"Kejadian ini membuat hati saya terpukul. Karena anak kami baru setahun menikah dan baru beberapa bulan tinggal bersama suaminya," ungkap Haidin  pada media ini ditemui di kediamannya, Minggu (16/5).

Haidin mengaku, belum mengetahui dengan pasti  penyebab kebakaran. Namun dugaan sementara disebabkan anak-anak yang main bakar-bakaran. Ada yang melihat anak-anak membakar sampah sisa tongkol jagung.

Dari kejadian tersebut Muhaidin mengaku, tidak satupun barang yang bisa diselamatkan. Baik itu pakaian, perabot rumah tangga hingga dokumen-dokumen penting lainnya.

Termasuk, tiga ekor kambing yang terperangkap di kolong rumah juga ikut terpanggang.

Hingga berita ini ditulis, Haidin mengaku belum mendapatkan bantuan apapun. Hanya ada dari Camat Soromandi yang memberikan paket Sembako.

"Kopi satu renteng, minyak goreng satu botol, pakaian tiga lembar dan beras dua kilogram," sebut Haidin.

Pemilik rumah, Nursafirah mengaku pasrah  dengan musibah tersebut. Meski merasa sangat terpukul, namun ia dan suaminya tidak bisa berbuat banyak.

Kerugian dari musibah ini, diperkirakan mencapai Rp 25 juta. Jumlah itu terdapat pada perabotan kurang lebih sebesar Rp 15 juta, rumah sekitar Rp 8 juta dan kambing sekitar Rp 2 juta.

"Kami menerima musibah ini sebagai takdir," katanya sedih.

Atas ujian ini, dia berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima untuk melirik keadaan mereka. (ar)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda