Warga Sarata Harus Rogoh Kocek Ratusan Ribu Tiap Bulan Untuk Beli Air - Bima News

Saturday, 24 April 2021

Warga Sarata Harus Rogoh Kocek Ratusan Ribu Tiap Bulan Untuk Beli Air

Beli Air

Warga Lingkungan Sarata, Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 


KOTA BIMA-Lingkungan Sarata, Kelurahan Paruga merupakan satu diantara wilayah di Kota Bima yang alami krisis  air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air, warga setempat membeli air setiap hari.

Misniati, warga setempat misalnya. Setiap hari harus membeli air 1.100 liter seharga Rp 20 ribu.

Dia hanya satu dari sekian banyak warga Kota Bima yang saat ini harus membeli air bersih.  Apalagi tidak memiliki sumur bor, sehingga ketika air PDAM tidak mengalir, harus membeli air setiap hari.

"Tiap hari saya beli satu tangki  seharga Rp 20 ribu,  untuk mandi, cuci dan masak. Untuk minum,  beli air galon, " beber wanita yang jualan sate ini.

Krisis air bersih mulai dirasakannya  pasca banjir bandang tahun 2016 lalu. Sejak saat itu, air PDAM tidak lagi mengalir. Sempat ajukan pemasangan ulang meteran air, justru diminta untuk bayar denda.

"Sejak saat itu kita tidak lagi bisa mendapatkan air PDAM. Karena jika denda tidak dibayar, PDAM tidak mau pasang meteran air,’’ terangnya.

Hal senada diungkapkan warga RT 16, RW 06 Lingkungan Sarata, Hj Suriati. Dia mengaku, sudah lima bulan air PDAM tidak jalan. Praktis mereka kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

‘’Kalau saya  masih bisa gunakan air bor untuk cuci dan mandi. Meskipun airnya  asin,’’ sebutnya.

Sedanhkan untuk keperluan masak dan minum, Hj Suriati membeli air satu tangki seharga Rp 20 ribu.  Itu bisa dia pakai  selama satu minggu.

Namun, idak semua warga  memiliki air bor. Warga yang tidak sumur bor, harus membeli air setiap hari seperti, tetangganya Misniati.

"Kita masih untunglah karena punya sumur bor. Warga lain, harus membeli air untuk  kebutuhan cuci, mandi, minum, masak dan lain-lain,’’ sebutnya.

Soal krisis air ini  kata dia, telah dilapor ke pemerintah kelurahan. Sudah ndak kehitung berapa kali. Tapi tidak direspon.

"Kami pasrah saja, sambil berharap air PDAM kembali jalan,"  harapnya. (ar)

 

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda