Mayat TKW Asal Kota Bima Disandera di Rumah Sakit GH Penang Malaysia - Bima News

Saturday, 11 July 2020

Mayat TKW Asal Kota Bima Disandera di Rumah Sakit GH Penang Malaysia


KOTA BIMA-Nasib tragis dialami, Murni, TKW asal Kelurahan Dara yang kini meninggal di Gleneagles Hospital Penang, Malaysia. Mayat wanita 40 tahun ini masih disandera di rumah sakit tersebut, karena biaya perawatannya belum dibayar.





Informasi diperoleh dari Nini Karlina, TKW asal Desa Parangina, Kecamatan Sape Kabupaten Bima yang juga kerja di Pulau Pinang, Malaysia.  Alamrhumah Murni meninggal pada Selasa (7/7) lalu. Sampai hari ini (Sabtu) mayatnya masih berada di rumah sakit Gleneagles Hospital Penang, karena belum ada biaya untuk tebusan.





Almarhumah kata Nini, kini
sudah lima hari berada di rumah sakit dengan waktu meninggal pada Kamis lalu. Untuk
biaya menebus mayat almarhumah, tidak diketahui pasti berapa.





Masalahnya kata dia, saat almarhumah dirawat kedua kali di rumah sakit tersebut dibawa oleh KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Malaysia. Sementara pihak kedutaan terkesan lepas tangan.





Saat dihubungi via ponsel, Nini Karlina mengaku, soal mayat almarhumah yang kini masih di rumah sakit menjadi beban Ehsan, warga Myanmar. Karena ketika almarhum dirawat pertama kali di RS tersebut,  dia yang meregistrasi, sehingga almarhum mendapatkan pelayanan medis.





Setelah almarhumah
meninggal, pihak rumah sakit dan kepolisian terus menghubungi Elsan. Diancam akan
dipenjara, jika mayat almarhumah tidak segera ditebus.





‘’Waktu almarhumah keluar
rumah sakit saat pertama dirawat, ditebus dengan uang kiriman keluarga dari
Bima sekitar Rp 8 jutaan. Sisanya ditanggung Elsan. Sekarang Elsan jadi
sasaran, karena nomor HP dan namaya masih tercatat di rumah sakit tersebut,’’
keluhnya.





Padahal Ehsan kata Nini, membantu atas dasar rasa kemanusiaan, setelah melihat Murni sudah lima hari di rumah sakit, tapi belum mendapatkan pelayanan medis. ‘’Itu awalnya, Ehsan menjaminkan dirinya, agar almarhum mendapatkan pelayanan medis dengan layak,’’ terangnya.





Diceritakan Nini, awalnya
mereka tidak tahun almarhumah Murni dirawat di rumah sakit. Kemudian ada telpon
keluarga dari Bima, meminta bantuannya untuk mencari tahu kondisi Murni yang
saat itu sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Pulau Pinang Malaysia.





Karena Nini dan beberapa
orang TKW lain asal Bima tidak memiliki dokumen lengkap sebagai TKI, mereka
meminta bantuan Elsan, warga Myanmar. Dia yang kemudian keliling ke sejumlah rumah
sakit di pulau tersebut.





Sementara Sarina, teman
satu tempat kerja dengan almarhumah tidak memberikan informasi jelas, di rumah
sakit mana almarhumah dirawat.





Sebaliknya, Sarina justru
memberikan informasi,  almarhumah dirawat
di rumah sakit jiwa. Informasi itu juga yang disampaikan pada keluarga Murni di
Bima.





Disingung tentang penyakit
apa yang diderita alamhumah sebelum meninggal?. Nini mengaku tidak tahu. Tapi
dia mengaku sempat pertanyakan itu langsung pada Murni sebelum meninggal. Saat
itu kata dia,almarhumah hanya mengeluhkan badan lemas dan tidak tahu apa-apa .





Soal luka ditangan, diakui
itu wajar, karena almarhumah bekerja sebagai cleaning service. Sering
menggunakan bahan kimia.





‘’Saya juga sempat
tanyakan langsung soal sejumlah memar di tubuh almarhumah. Saat itu almarhumah
mengaku tidak tahu. Mungkin karena lama tidur di rumah sakit, sehingga muncul sejumlah
memar tersebut,’’ terangnya.





Hanya saja ketika pertama
kali alamrhumah dibawa ke rumah sakit, kondisinya dalam keadaan tidak sadarkan
diri. Dan alamarhumah saat itu bukan diantar ke rumah sakit, melainkan
dititipkan pada supit taksi yang kemudian menurunkannya depan rumah sakit.
(gun)


Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda