Bima News: Pasar Amahami
Tampilkan postingan dengan label Pasar Amahami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Amahami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2020

Lapak New Normal Pasar Ama Hami Kota Bima Dianggurin

KOTA BIMA-Lapak tenda yang dipasang dan ditata di ujung selatan Pasar Ama Hami Kota Bima terlihat kosong. Tidak dimanfaatkan oleh pedagang. Tenda tersebut dipasang saat penerapan new normal oleh Pemkot Bima beberapa waktu lalu.

Pembangunan tenda tersebut untuk mengatur pedagang di pasar setempat  supaya tidak numpuk. Sayangnya, lokasi tempat lapak tersebut sempat diterjang banjir rob, sehingga pedagang pindah.

Kepala Dinas Koperindag Kota Bima Abdul Haris mengaku, lapak belum ditempati karena masih ada yang harus dikerjakan. Sebab kata dia, pedagang tak mau menempati tempat baru karena becek akibat  rob. “Dulu terjadi banjir rob, sehingga ada pekerjaan yang harus ditambah,” ungkap Haris, kemarin (10/8).

Koperindag Kota Bima akan menambah pekerjaan rabat dan paving block agar tak lagi digenangi rob dan becek. “Untuk pekerjaan tersebut menunggu APBD perubahan,” terangnya.

Di sisi lain, Kepala UPT Pasar Ama Hami Syariman mengaku, kondisi Pasar Ama Hami saat ini kumuh. Saluran irigasi mampet dipenuhi sampah. Begitu juga dengan pedagang sulit diatur.

Kondisi tersebut katanya, akibat mental pedagang yang sulit diatur. “Kami tidak pungkiri sarana dan prasarana yang ada di pasar masih banyak kurang. Itu diperparah kesadaran warga pasar yang tidak minim. Membuang sampah sembarang,” katanya,  kemarin.

Karena itu kata dia, hal ini  menjadi tugas berat  pihaknya, bagaimana membangun kesadaran warga pasar, melalui pembinaan. Supaya tumbuh kesadaran untuk menjaga kebersihan pasar. “Kami akan pelan-pelan membangun kesadaran pedagang yang ada melalui pembinaan dan pendekatan secara emosional,’’ ujarnya.

Pembinaan itu lanjutnya, mengajak pedagang setempat untuk  menyiapkan tempat sampah. Kemudian menyimpan disatu tempat, untuk memudahkan diangkut petugas. “Kita akan pelan-pelan melakukan pendekatan dengan para pedagang yang ada, supaya membiasakan menyiapkan tempat untuk membuang sampah,’’ terangnya.

Untuk upaya itu, Syariman mengaku akan menggandeng Asosiasi  Pedagang Seluruh Indonesia (APSI) Kota Bima. Bekerja sama membangun kesadaran para pedagang yang ada untuk ikut menjaga kebersihan dan kenyamanan pasar. (tin/nk/r8)

Lapak New Normal Pasar Ama Hami Kota Bima Dianggurin

KOTA BIMA-Lapak tenda yang dipasang dan ditata di ujung selatan Pasar Ama Hami Kota Bima terlihat kosong. Tidak dimanfaatkan oleh pedagang. Tenda tersebut dipasang saat penerapan new normal oleh Pemkot Bima beberapa waktu lalu.

Pembangunan tenda tersebut untuk mengatur pedagang di pasar setempat  supaya tidak numpuk. Sayangnya, lokasi tempat lapak tersebut sempat diterjang banjir rob, sehingga pedagang pindah.

Kepala Dinas Koperindag Kota Bima Abdul Haris mengaku, lapak belum ditempati karena masih ada yang harus dikerjakan. Sebab kata dia, pedagang tak mau menempati tempat baru karena becek akibat  rob. "Dulu terjadi banjir rob, sehingga ada pekerjaan yang harus ditambah," ungkap Haris, kemarin (10/8).

Koperindag Kota Bima akan menambah pekerjaan rabat dan paving block agar tak lagi digenangi rob dan becek. "Untuk pekerjaan tersebut menunggu APBD perubahan," terangnya.

Di sisi lain, Kepala UPT Pasar Ama Hami Syariman mengaku, kondisi Pasar Ama Hami saat ini kumuh. Saluran irigasi mampet dipenuhi sampah. Begitu juga dengan pedagang sulit diatur.

Kondisi tersebut katanya, akibat mental pedagang yang sulit diatur. “Kami tidak pungkiri sarana dan prasarana yang ada di pasar masih banyak kurang. Itu diperparah kesadaran warga pasar yang tidak minim. Membuang sampah sembarang,” katanya,  kemarin.

Karena itu kata dia, hal ini  menjadi tugas berat  pihaknya, bagaimana membangun kesadaran warga pasar, melalui pembinaan. Supaya tumbuh kesadaran untuk menjaga kebersihan pasar. “Kami akan pelan-pelan membangun kesadaran pedagang yang ada melalui pembinaan dan pendekatan secara emosional,’’ ujarnya.

Pembinaan itu lanjutnya, mengajak pedagang setempat untuk  menyiapkan tempat sampah. Kemudian menyimpan disatu tempat, untuk memudahkan diangkut petugas. “Kita akan pelan-pelan melakukan pendekatan dengan para pedagang yang ada, supaya membiasakan menyiapkan tempat untuk membuang sampah,’’ terangnya.

Untuk upaya itu, Syariman mengaku akan menggandeng Asosiasi  Pedagang Seluruh Indonesia (APSI) Kota Bima. Bekerja sama membangun kesadaran para pedagang yang ada untuk ikut menjaga kebersihan dan kenyamanan pasar. (tin/nk/r8)

Minggu, 23 Februari 2020

Harga Bawang Putih Naik, Pedagang Makanan Kewalahan

Kota Bima, Radarbima.com—Kenaikkanharga bawang putih tidak hanya di tingkat nasional, di daerah pun, si putihpenyedap makanan ini pun meroket.

Di KotaBima, harga bawang putih tembus angka Rp 85 ribu per kilogram. Harga ini jauhdibandingkan harga beberapa bulan lalu, hanya sekitar Rp 20 hingga Rp 30 ribuper kilogram.

Meski mahal,tapi keberadaan bawang putih ini tidak langka. Justru terlihat melimpah dipasar tradisional Ama Hami Kota Bima.

Naiknyaharga bawang putih ini, berimbas pada pedagang makanan. Terutama, penjual nasigoreng yang membutuhkan banyak bawang putih sebagai penyedap rasa.

Siswanto,pedagang nasi goreng di Kota Bima mengaku, kewalahan menyiasati kebutuhanbawang putih untuk bumbu nasi goreng yang dia jual.

“Bawangputih itu bumbu pokok. Kalau rumahtangga tidak terlalu terasa dengan naiknyaharga bawang putih ini. Tapi, kami sangat merasakan dampaknya, ” akuSiswanto.

Naiknya hargabawang putih ini, dipicu kebijakan pemerintah pusat yang membatasi impor barangdan pangan dari Tiongkok.

Selama ini,Indonesia mengimport bawang putih dari negeri Tirai Bambu tersebut.

Selainbawang putih, bawang merah pun menunjukkan grafik naik. Padahal, Bima dikenalsebagai lumbung bawang merah.

Maesarah,pedagang bawang merah mengaku, tidak mengetahui secara pasti pemicu naiknyaharga bawang merah. Sebagai pengecer, dia  sudah merasakan naiknya hargabawang merah di tingkat distributor. (tin)

Harga Bawang Putih Naik, Pedagang Makanan Kewalahan






Kota Bima, Radarbima.com—Kenaikkan
harga bawang putih tidak hanya di tingkat nasional, di daerah pun, si putih
penyedap makanan ini pun meroket.





Di Kota
Bima, harga bawang putih tembus angka Rp 85 ribu per kilogram. Harga ini jauh
dibandingkan harga beberapa bulan lalu, hanya sekitar Rp 20 hingga Rp 30 ribu
per kilogram.





Meski mahal,
tapi keberadaan bawang putih ini tidak langka. Justru terlihat melimpah di
pasar tradisional Ama Hami Kota Bima.





Naiknya
harga bawang putih ini, berimbas pada pedagang makanan. Terutama, penjual nasi
goreng yang membutuhkan banyak bawang putih sebagai penyedap rasa.





Siswanto,
pedagang nasi goreng di Kota Bima mengaku, kewalahan menyiasati kebutuhan
bawang putih untuk bumbu nasi goreng yang dia jual.





"Bawang
putih itu bumbu pokok. Kalau rumahtangga tidak terlalu terasa dengan naiknya
harga bawang putih ini. Tapi, kami sangat merasakan dampaknya, " aku
Siswanto.





Naiknya harga
bawang putih ini, dipicu kebijakan pemerintah pusat yang membatasi impor barang
dan pangan dari Tiongkok.





Selama ini,
Indonesia mengimport bawang putih dari negeri Tirai Bambu tersebut.





Selain
bawang putih, bawang merah pun menunjukkan grafik naik. Padahal, Bima dikenal
sebagai lumbung bawang merah.





Maesarah,
pedagang bawang merah mengaku, tidak mengetahui secara pasti pemicu naiknya
harga bawang merah. Sebagai pengecer, dia  sudah merasakan naiknya harga
bawang merah di tingkat distributor. (tin)


Ad Placement

Kota Bima

Bima

Dompu